Mesjid Giok : Cantik Dan Indah Dibuat Dari Giok Asli

by - Juni 08, 2026

Sudah seminggu berencana ke tempat wisata Irigasi yang ada di Nagan Raya. Menunggu Abang ipar saya cuti kerja terlebih dahulu. Adik bos di tempat kerja beliau belum pulang dari luar kota. Itu sebab nya Abang ipar belum bisa cuti karna gak ada orang lain di tempat kerja.

Perjalanan Menuju Nagan Raya

Berangkat lah kami Minggu depan. Semuanya empat motor berpasang-pasangan. Saya boncengan sama mamak, adik sepupu saya yang bernama Bunga dengan mamak nya, lalu Melati sepupu saya yang satu nya lagi bersama adiknya, dan satu motor lagi kakak saya dengan suami nya tak lupa juga ada si bocil.

Perjalanan kali ini tidak dekat, agak jauhan dikit melewati tempat saya KPM (Kuliah Pengabdian Masyarakat) dulu. Tempat wisata yang ingin kami kunjungi ini memang belum pernah satu pun dari kami yang kesana. Faktor pertama nya karna kurang motor. Motor ada cuma kondisi nya gak memungkinkan untuk bepergian jauh. Ini aja satu motor yang adik sepupu naik pinjam motor punya saudara. Kalau bepergian berdua doang kan ga enak, enak nya ramai-ramai hehe. Kami juga mengajak adek sepupu saya Siti namanya. Awal nya dia mau ikutan tapi gak jadi sebab bentrok jadwal mau pergi sama temen nya.

Dulu Naik Becak Menuju Irigasi Beutong

Dulu waktu KPM kami juga pernah mau ke tempat Irigasi Beutong. Satu geng anak KPM Blang Puuk Kulu naik becak punya desa disitu. Dengan becak nya gak bisa ngebut lagi, berat muatan isinya kami delapan orang. Dua laki-laki di jok becak dan enam perempuan di bawah. Sudah setengah jam kami berjalan dan di tengah perjalanan tiba-tiba langit berubah menjadi gelap. Awan mulai berkumpul satu-persatu. Angin menghembuskan daun-daun di perpohonan. Langit pun mulai meneteskan air hujan rintik-rintik. Jadi nya berhenti lah becak kami di sebuah warung yang ada di sekitar sawah. Kami duduk disana sambil sebagian pesan beberapa minuman. Tak lama kemudian hujan makin deras di tambah suara petir juga. Ya Allah rasanya hati kami ini udah gak karuan. 

Mau lanjut udah pasti ga mungkin, karna kata Susi salah satu temen saya yang tinggal di daerah Nagan Raya masih jauh. Dan waktu nya pun sekarang udah sore. Bisa aja pulang ke rumah sampai nya Maghrib. Takot nya di cari sama Pak Geuchik kemana anak KPM?. Dan di rumah kami anak perempuan tinggal juga ada seorang Nenek. Bisa aja beliau khawatir jika sudah Maghrib kami masih di luar rumah. Mau gas pulang juga gak mungkin, karna masih hujan dan disertai petir. Setelah keadaan memungkinkan baru kami balik pulang kembali ke desa Blang Puuk Kulu

Kembali Ke Cerita Sekarang

Di tengah perjalanan, saya dan Bunga ketinggalan di belakang. Sedangkan kakak saya dan satu motor lagi Melati sudah berlaju cepat di depan. Saya bawa motor pelan-pelan sebab Bunga adek sepupu saya belum terbiasa bepergian jauh. "Uning berhenti dulu" kata Bunga yang ada di belakang kami. Fyi uning itu sebutan kakak sepupu dari sebelah ibu. Bukan Ning yang seperti anak kiyai di luar sana. Jika di sebelah Ayah adek sepupu saya memanggil saya dengan sebutan Uti. Sebetulnya Ukhti dalam bahasa Arab yang artinya saudara perempuan.

Saya memberhentikan motor, melihat ke belakang apa gerangan dia menyuruh kami berhenti. Bunga memberitahukan gas motor nya gak bisa. Ketika di tarik gas motor nya tetap gak mau jalan. Hampir sepuluh menit kami berhenti disitu. Kami menghubungi Abang ipar, Kakak saya, dan Melati satu pun gak ada yang angkat.

Tiba-tiba keluar Abang yang ada di rumah depan kami mogok ini. "Kenapa dek?" Tanya Abang itu yang saya tidak tau siapa namanya. Kami jawab "motor nya mogok bang". Beliau bilang bengkel ada tapi jauh sekitar 100 meter di depan. "Waduhhh jauh amat" bisik saya dalam hati. "Adek naik terus biar Abang dorong dari belakang" ujar Abang nya sama Bunga.

Saya, Mamak, dan Bunda menunggu di teras rumah beliau. Di rumah tersebut ada Ibu dan Istri dari Abang yang menolong kami tadi sedang mengendong bayi mereka. Berbincang lah Mamak dan Bunda saya. Saya hanya jadi pendengar saja. Hp saya berbunyi panggilan dari Melati. Dia bertanya ada apaa tadi nelpon?. Saya kasih tau bahwa qodarullah kami harus berhenti dulu karna motor Bunga mogok. Dan saya menyuruh dia duluan aja, pelan-pelan bawa motor jangan ngebut. Susulin Abang Ipar dan Kakak saya di depan. Ternyata mereka sudah berhenti di Mesjid Giok. Tadi memberitahukan kepada kami.

Selesai berbicara dengan Melati, Bunga menelpon juga. "Uning kesini terus aku gak berani sendiri disini". Katanya. "Okeh" ku jawab. Telepon putus tak lama kemudian Abang yang tadi tiba di rumah. "Sudah sampai dek di bengkel, nanti dari sini adek lurus aja. Bengkel nya di sebelah kanan, di depan nya ada orang jual ikan asin". Kata Abang nya kepada kami ketika tiba di rumahnya. Setelah mengantarkan Bunga kesana. Beliau balik terus. 

Kami berterima kasih kepada Abang dan keluarga nya dan pamit menyusul Bunga ke bengkel. 30 menit baru selesai di perbaiki motor. Bapak bengkel itu bilang gak ada api di dalam nya makanya gas gak mau jalan. Alhamdulillah kami bisa melanjutkan perjalanan kami.

Memasuki kawasan Nagan Raya kami berhenti di depan kios. Membeli beberapa kue untuk mengisi perut disaat singgah di Mesjid Giok. Saat hendak berangkat motor yang Bunga naikin berulah kembali. Ya mogok lagi. Tidak bisa di starter dan di engkor juga gak hidup. Yaudah kami menghubungi Abang Ipar untuk menjemput kami. Posisi kami sekarang tidak jauh dari Mesjid Giok. Sepuluh menit Abang Ipar saya tiba mendorong motor Bunga dari belakang. Dan Bunda saya nebeng sama Abang Ipar.

Keindahan Mesjid Giok 

Di halaman Mesjid Giok mereka duduk menunggu kami sambil ngemil kerupuk dan gorengan. Saya memarkirkan motor ikut gabung dengan mereka. 


Nura menawari saya kerupuk yang ada di tangan nya. Saya ambil masukkan ke mulut memang udah lapar selama perjalanan gak makan apa-apa. Selain makan pagi di rumah. Kami disitu udah waktunya sholat Dzuhur. Berjumpa dengan Cutda Tia dan keluarga nya yang baru selesai sholat di Mesjid Giok. Mereka juga rencana mau jalan-jalan ke Irigasi Beutong. Mereka pamit duluan karna udah lama sampai di Mesjid Giok sebelum Kakak saya sampai.


Cuaca nya sangat bagus. Matahari cerah begitu terik menyinari bumi tempat kami berpijak. Kami menuju ruangan tempat wudhu yang ada di bawah Mesjid Giok. Telapak kaki kami terasa panas saat menapaki lantai Mesjid Giok. Tidak sanggup berjalan tanpa alas kaki. Sebagian berlari agar cepat sampai ke tempat yang dingin. Kami memutuskan untuk pakai sandal terus walaupun disana disuruh lepas alas kaki. Karna menurut kami masih di halaman Mesjid dan Kondisi nya pun panas seperti kita berjalan di atas bara api.

Dari luar halaman saja Mesjid Giok ini sudah nampak sangat cantik. Apalagi kita masuk ke dalam nya. Terkenal dengan sebutan Mesjid Giok karena lantai, dinding dan tiang Mesjid ini terbuat dari batu giok asli. Sangat rekomendasi bagi temen-temen yang mau nikah, bisa nikah disini. Seperti pada saat kami datang waktu itu, ada satu pengantin baru yang baru selesai akad nikah di Mesjid tersebut. Nuansa islami cocok untuk berfoto setelah menikah.


Dan pada akhirnya setelah selesai sholat Dzuhur kami memutuskan pulang saja. Tidak mau melanjutkan lagi perjalanan ke Irigasi Beutong. Sudah dua kali mogok motor yang di bawa sama dek Bunga. Belom rezeki kesana, semoga ke depan nya bisa singgah kesana aaaaaminnnn. Sebelum pulang ke rumah kami berhenti dulu di Naga Permai. Disitu lah kami makan siang. Gak ada foto disana karena sudah pada lapar semua hehe.

Terima kasih dan sampai jumpa di postingan selanjutnya teman-teman


You May Also Like

0 comments